Kamis, 17 September 2015

Jakarta - Menko bidang Matirim dan Sumber Daya Rizal Ramli meminta PT PLN (Persero) membebaskan masyarakat untuk memilih rumahnya menggunakan listrik dengan sistem prabayar (pulsa listrik termurah) atau pasca bayar (bulanan). Menurutnya penggunaan listrik meteran (pasca bayar) jauh lebih murah. Benarkah?

"Yang penting kan terbuka, efisien, transparan ya kan, rakyat jangan dirugikan. Yang terjadi ini banyak hal yang tidak transparan. Karena kalau saudara beli pulsa dibandingkan dengan meteran bisa lebih murah. Yang kami minta itu kan rakyat dibagi, boleh melakukan dua hal, boleh memilih sistem meteran, atau memilih sistem pulsa. ‎Karena banyak keluarga, jam 7 atau jam 8 anaknya masih belajar, cari pulsa susah gitu lho. Kami minta supaya terbuka. Tidak hanya sistem pulsa, tapi juga sistem meteran," papar Rizal kemarin.

Namun, hal tersebut dibantah para Direksi PLN. Perbedaan kedua tersebut hanya masalah pembayarannya saja, sementara tarif, potongan dan biaya administrasi juga sama, tidak ada yang beda.

"Sama saja. Karena tetap kan biaya-biaya itu ada. Mau itu biaya administrasi bank, Pajak Penerangan Jalan Umum (PPJ) dan lainnya. Sama, bedanya hanya cara bayarnya saja, yang prabayar pakai pulsa (token), yang pasca bayar tiap bulan," kata Direktur Perencanaan PLN Murtaqi Syamsuddin, kepada detikFinance, Rabu (9/9/2015).

Murtaqi mencontohkan, pelanggan listrik prabayar golongan R-1 900 VA tarif listriknya Rp 1.325/kWh (kilo Watt Hour), sedangkan pelanggan listrik pasca bayar golongan R-1 900 VA tarifnya juga sama Rp 1.325/kWh.

Biaya administrasi dan PPJ dikenakan saat membeli pulsa token baik itu di minimarket, mesin ATM atau mobile banking, sementara pasca bayar bayarnya PPJ dan biaya administrasi dikenakan saat bayar tagihan listrik di akhir bulan.

Murtaqi menegaskan, tak ada pemaksaan bagi pelanggan PLN untuk menggunakan meteran listrik prabayar, pelanggan dibebaskan memilih.

"Ya itu sebenarnya ada di tangan pelanggan ya. Tapi sekarang banyak produsen meteran listrik kebanyakan produksinya yang sistem token. Pertimbangannya karena memang justru memudahkan masyarakat. Masyarakat itu jauh lebih mudah pakai pulsa token daripada meteran. Dari sisi PLN juga lebih mudah juga," tambah Murtaqi.

Murtaqi mengungkapkan kemudahan apa saja yang didapat pelanggan bila menggunakan sistem pulsa listrik, yakni:


  1. Bisa kontrol pemakaian listrik setiap hari,
  2. Tak ada lagi petugas PLN datang ke rumah untuk putus aliran listrik kalau telat bayar.
  3. Pulsa listrik mau habis, pelanggan mudah belinya ada di minimarket, mesin ATM, maupun mobile dan internet banking,
  4. Tak ada lagi petugas PLN datang ke rumah untuk cek meteran listrik.
  5. Tak ada lagi cerita kesalahan pencatatan meteran listrik oleh petugas, yang bisa merugikan pelanggan maupun PLN sendiri.
  6. Sistem tak bisa dibobol. 20 angka digit pulsa listrik hanya bisa diisi ke meteran listrik sendiri, tidak bisa diisikan ke meteran lain.
Selain itu, bagi PLN, bila masyarakat banyak pakai meteran listrik (pasca bayar) hal ini merepotkan PLN, karena BUMN listrik ini harus merekrut banyak orang hanya untuk mencatat angka meteran listrik setiap rumah.

"Kami punya risiko dengan merekrut orang ribuan lagi," ujar Direktur Utama PLN Sofyan Basir ditemui di DPR, kemarin.

Hal ini jelas mempengaruhi kinerja operasional PLN. Bukan hanya dari sisi biaya yang harus dikeluarkan lebih untuk menggaji banyak petugas pencatat, namun juga proses pencatatan yang cenderung lebih lambat dan tidak akurat.

"Bagaimana misalkan 56 juta penduduk (pelanggan PLN) harus satu persatu kita datangi. Bagaimana mencatat meter, ulang lagi, baru masukan data ke PLN," simpulnya.

Selain itu, pada meteran listrik manual, pencatatan daya yang digunakan masyarakat dilakukan pencatatan secara manual oleh petugas listrik. Pencatatan daya ini lah yang dijadikan dasar penghitungan biaya yang harus dibayarkan pelanggan listrik PLN.

"Itu pun banyak oknum pencatat yang tidak mencatat dengan baik. Mereka bisa saja tidak datang ke rumah orang. Tiba-tiba saatnya pelanggan disuruh bayar denda luar biasa oleh PLN. Padahal kesalahan oknum," tutup Sofyan.

Namun, di masyarakat hingga sampai saat ini masih memiliki pandangan, bila menggunakan pulsa listrik jauh lebih mahal dibandingkan pakai meteran listrik biasa alias pasca bayar.

"Penyusutan pulsa token jauh lebih besar. Sengaja saya bikin survei perbandingan secara valid. Saya punya 2 rumah yang dayanya sama 1.300 VA. Yang satu pakai token, yang satunya meteran manual. Tingkat pemakaian semuanya juga sama. Setelah dihitung per akhir bulan, terjdi perbedaan biaya berkisar Rp 250-300 ribu. Token jauh lebih besar. Dan ini sudah lama bayak dikeluhkan para konsumen lain," ungkap pembaca detikFinance.
Diberdayakan oleh Blogger.